KASUS KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA DI INDONESIA

KASUS KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA
DI INDONESIA

Untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Arief Rahman Hakim

NIM : 12210010

 

 

SEKOLAH TINGGI MIPA BOGOR

BOGOR

2012

 


 

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa karena atas rahmat serta hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah pendidikan kewarganegaraan ini berjudul “KASUS KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA DI INDONESIA”. Makalah ini suatu persyaratan dalam memperoleh nilai dari mata kuliah pendidikan kewarganegaraan.

            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penuls mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penulisan makalah di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya.

 

 

 

Bogor, Desember 2012

 

                                                                                                      Penulis      

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………… 1

1.1    Latar Belakang……………………………………………………………… 1

1.2  Tujuan…………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………. 3

2.1 Pengertian Korupsi……………………………………………………….. 3

2.2  Akibat-Akibat Korupsi………………………………………………….. 4

2.3 Upaya pemerintah dalam memberantas korupsi ……………….. 5

2.4  Perbandingan Pemberantasan korupsi di indonesia dengan

negara lain di dunia……………………………………………………….. 7

BAB III PENUTUP………………………………………………………………….. 9

3.1  Simpulan……………………………………………………………………… 9

3.2  Saran ………………………………………………………………………….. 9

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………  10

 

 

BAB II

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Korupsi merupakan istilah yang sangat akrab di telinga kita. Istilah
yang hanya terdiri dari satu kata itu seperti seorang selebritis, yang setiap
hari dalam media massa selalu menjadi headline, baik dalam media koran,
majalah, maupun media elektronik. Ibarat penyakit, masalah korupsi sudah
menjadi kronis yang dalam kehidupan seharihari mudah dijumpai dalam
berbagai aspek kehidupan dari tingkat pusat sampai tingkat yang paling
rendah.

          Sebagai gambaran, seseorang yang akan mengikuti suatu rapat yang
diselenggarakan oleh RT, RW, desa maupun organisasi tertentu akan
menganggap suatu hal yang biasa apabila terjadi keterlambatan dalam
pelaksanaan tersebut sampai setengah jam atau satu jam. Seorang petugas
pelayananan umum yang sudah biasa menerima “tali kasih” karena membantu seseorang untuk mengurusi surat-surat tertentu.
Seseorang yang karena tidak mau antri, memberikan sesuatu kepada
petugas atau karena sudah kenal dengan petugas, akhirnya berhasil
menerobos barisan orang lain yang telah antri berjam-jam dan mendapatkan
pelayanan lebih dulu. Kejadian kejadian
tersebut di atas sudah menjadi tradisi dan sering kita temukan dalam
kehidupan sehari-hari. Nah, bagaimana menurutmu, Apakah hal itu
termasuk korupsi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut akan dibahas
pengertian korupsi dan unsurunsur yang dapat dikategorikan korupsi.

          Korupsi merupakan masalah dunia, jadi tidak hanya masalah
bangsa Indonesia. Sejarah telah mencatat bahwa masalah korupsi
sudah ada sejak jaman dahulu dan berkembang hingga sekarang.
Pengertian korupsi pun mengalami perkembangan. Apabila dilihat
dari asal-usul istilahnya, korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio
yang berarti kerusakan, pembusukan, kemerosotan, dan penyuapan.
Ada beberapa istilah yang mempunyai arti yang sama dengan korupsi,
yaitu corrupt (Kitab Negarakrtagama) artinya rusak, gin moung
(Muangthai) artinya makan bangsa, tanwu (China) berarti keserakahan
bernoda, oshoku (Jepang) yang berarti kerja kotor. Berdasarkan makna
harfiah, korupsi adalah keburukan, keburukan, kejahatan, ketidakjujuran,
penyimpangan dari kesucian, kata-kata yang bernuansa menghina atau
memfitnah, penyuapan. Dalam bahasa Indonesia korupsi adalah perbuatan
buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.

1.2  Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut.

a.   Untuk mengetahui Pengertian Korupsi

b.   Untuk mengetahui Fakta korupsi yang terjadi di masyarakat

c.   Untuk mengetahui tindakan-tindakan pemerintah dalam pemberantasan korupsi

d.    Untuk mengetahui solusi Pemberantasan korupsi.

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai solusi pemecahan masalah dalam  pemberantasan korupsi yang semakin mengakar di indoesia ini.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Korupsi

Tindak pidana korupsi merupakan salah satu jenis dari berbagai jenis tindak pidana. Korupsi memang sudah dianggap sebagai penyakit moral, bahkan ada kecenderungan semakin berkembang dengan penyebab multifaktor. Dibawah ini merupaka beberapa pendapat dari para ahli tentang pengertian dari korupsi.

disimpulkan bahwa korupsi merupakan tindakan pidana yang memiliki unsur unsur sebagai berikut :

a. Perbuatan Melawan Hukum,

b. Penyalahgunaan wewenang, kesempatan, atau sarana,

c. Memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi,

d. Merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.

Menurut Prof. Muljatno (dalam K Wantjik Saleh, 1983 : hal. 16), Tindak Pidana merupakan Perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Menurut wujudnya atau sifatnya perbuatan pidana ini adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan-perbuatan ini juga merugikan masyarakat, dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan adil. Ada beberapa unsur korupsi, yaitu:

  1. adanya pelaku
    Korupsi terjadi karena adanya pelaku atau pelaku-pelaku yang
    memenuhi unsur-unsur tindakan korupsi.
  2. adanya tindakan yang melanggar norma-norma
    Tindakan yang melanggar norma-norma itu dapat berupa norma
    agama, etika, maupun hukum.
  3. adanya tindakan yang merugikan negara atau masyarakat secara langsung maupun tidak langsung
    Tindakan yang merugikan negara atau masyarakat dapat berupa
    penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang maupun penggunaan kesempatan yang ada, sehingga merugikan keuangan negara, fasilitas maupun pengaruh dari negara.
  4. adanya tujuan untuk keuntungan pribadi atau golongan
    Hal ini berarti mengabaikan rasa kasih sayang dan tolong-menolong
    dalam bermasyarakat demi kepentingan pribadi atau golongan. Keuntungan pribadi atau golongan dapat berupa uang, harta kekayaan, fasilitas-fasilitas negara atau masyarakat dan dapat pula mendapatkan pengaruh.

2.2       Akibat-Akibat Korupsi

David H. Bayley menyatakan bahwa akibat-akibat korupsi tanpa memperhatikan apakah akibat-akibat itu baik atau buruk bisa dikategorikan menjadi dua. Pertama, akibat-akibat langsung tanpa perantara. Ini adalah akibat-akibat yang merupakan bagian dari perbuatan itu sendiri. Kedua, akibat-akibat tak langsung melalui mereka yang merasakan bahwa perbuatan tertentu, dalam hal ini perbuatan korupsi telah dilakukan. 

Mc Mullan (dalam Saleh, K. Wantjik: 1983) menyatakan bahwa akibat korupsi adalah ketidak efisienan, ketidakadilan, rakyat tidak mempercayai pemerintah, memboroskan sumber-sumber negara, tidak mendorong perusahaan untuk berusaha terutama perusahaan asing, ketidakstabilan politik, pembatasan dalam kebijaksanaan pemerintah dan tidak represif. 

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan akibat-akibat korupsi diatas adalah sebagai berikut :

1. Tata ekonomi seperti larinya modal keluar negeri, gangguan terhadap perusahaan, gangguan penanaman modal.

2.   Tata sosial budaya seperti revolusi sosial, ketimpangan sosial.

3. Tata politik seperti pengambil alihan kekuasaan, hilangnya bantuan luar negeri, hilangnya kewibawaan pemerintah, ketidakstabilan politik.

4. Tata administrasi seperti tidak efisien, kurangnya kemampuan administrasi, hilangnya keahlian, hilangnya sumber-sumber negara, keterbatasan kebijaksanaan pemerintah, pengambilan tindakan-tindakan represif.

5.  Secara umum akibat korupsi adalah merugikan negara dan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

6. Pemborosan sumber-sumber, modal yang lari, gangguan terhadap penanaman modal, terbuangnya keahlian, bantuan yang lenyap.

7. ketidakstabilan, revolusi sosial, pengambilan alih kekuasaan oleh militer, menimbulkan ketimpangan sosial budaya.

8.  pengurangan kemampuan aparatur pemerintah, pengurangan kapasitas administrasi, hilangnya kewibawaan administrasi.

2.3       Upaya pemerintah dalam memberantas korupsi 

Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Korupsi sudah mewabah di Indonesia, bahkan bangsa Indonesia
termasuk salah satu negara yang mempunyai kebiasaan korupsi yang
paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Kondisi
semacam itu membuat upaya pemberantasan korupsi di Indonesia
menghadapi banyak hambatan. Meskipun demikian, pemerintah sudah
mengaturnya dalam UU sejak tahun 1957 hingga sekarang secara
terusmenerus, yaitu :

  1. Pada tahun 1957 dikeluarkan Peraturan Penguasa Militer Nomor
    PRT/PM/06/1957 tentang “Pemberantasan Korupsi”. Dalam
    peraturan ini disebutkan korupsi diartikan perbuatan-perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian. Kemudian dikeluarkan Peraturan Penguasa Militer No. PRT/PM/001/1957, yang memberikan dasar hukum kepada Penguasa Militer untuk menyita dan merampas barang-barang dari seseorang yang diperoleh secara mendadak dan merugikan.
  2. Pada tahun 1967 korupsi sudah tidak dapat dikendalikan dan
    berkembang dengan cepat, oleh sebab itu Presiden mengeluarkan
    Keputusan No.228 Tabun 1967 tentang Pembentukan Team
    Pemberantasan Korupsi (TPK) yang bertugas membantu pemerintah dalam memberantas korupsi secepat-cepatnya dan setertib-tertibnya. Di samping itu Presiden juga mengeluarkan Keppres No.12 Tahun 1970 tentang Pembentukan Komisi 4, yang terdiri dari Wilopo SH, I.J. Kasimo, Prof. Ir. Johanes dan Anwar Tjokroaminoto. Adapun tugasnya adalah mengadakan penelitian dan penilaian terhadap kebijakan yang telah dicapai dalam memberantas korupsi dan memberikan pertimbangan kepada pemerintah mengenai kebijakan yang masih diperlukan dalam pemberantasan korupsi.
  3. Pemerintah pada tahun 1971 berhasil membuat Undang-Undang No.3 Tahun 1971 tentang Tindak Pidana Korupsi. Namun dengan lahirnya UU tersebut tidak serta merta membuat pemberantasan korupsi berjalan baik. Namun sebaliknya upaya-upaya pemberantasan korupsi terkesan tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya koruptor yang diajukan ke sidang pengadilan karena kesulitan masalah pembuktian. Sehingga pada masa inilah (orde bare) korupsi berkembang dengan subur, dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.
  4. Setelah digulirkannya Reformasi, dan bergantinya kekuasaan Orde Baru mulailah bermunculan perangkat hukum yang mengatur masalah korupsi, yaitu:
  5. Tap MPR No.XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara
    yang bersih dan bebas KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
  6. UU No.28 Tahun 1999 sebagai pelaksanaan dari Tap MPR
    No.XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih
    dan bebas KKN
  7. UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana
    korupsi

4. UU No.20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pada masa Reformasi inilah pemberantasan korupsi mulai digiatkan kembali dengan intensif, dan sudah banyak kasus korupsi yang diajukan ke pengadilan, walaupun masih belum memuaskan sebagaian besar masyarakat.

2.4       Perbandingan Pemberantasan korupsi di indonesia dengan negara lain di dunia

Dilihat dari upaya-upaya pemerintah dalam memberantas praktek korupsi, sepertinya sudah cukup memadai baik dilihat dari segi hukum dan peraturan perundang-undangan, komisi-komisi, lembaga pemeriksa baik internal maupun eksternal, bahkan keterlibatan LSM. Namun, kenyataannya praktek korupsi bukannya berkurang malah meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan Indonesia kembali dinilai sebagai negara paling terkorup di Asia pada awal tahun 2004 dan 2005 berdasarkan hasil survei dikalangan para pengusaha dan pebisnis oleh lembaga konsultan Political and Economic Risk Consultancy (PERC). Hasil survei lembaga konsultan PERC yang berbasis di Hong Kong menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling korup di antara 12 negara Asia. Predikat negara terkorup diberikan karena nilai Indonesia hampir menyentuh angka mutlak 10 dengan skor 9,25 (nilai 10 merupakan nilai tertinggi atau terkorup). Pada tahun 2005, Indonesia masih termasuk dalam tiga teratas negara terkorup di Asia. Peringkat negara terkorup setelah Indonesia, berdasarkan hasil survei yang dilakukan PERC, yaitu India (8,9), Vietnam (8,67), Thailand, Malaysia dan China berada pada posisi sejajar di peringkat keempat yang terbersih. Sebaliknya, negara yang terbersih tingkat korupsinya adalah Singapura (0,5) disusul Jepang (3,5), Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan. Rentang skor dari nol sampai 10, di mana skor nol adalah mewakili posisi terbaik, sedangkan skor 10 merupakan posisi skor terburuk. Indonesia berada pada peringkat teratas dalam IPK (Indeks Persepsi Korupsi) dikawasan asia. Nilai yang amat sangat sempurna dan baik yang bisa diraih oleh indonesia seandainya gambar diatas bukan merupakan kurva yang menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi. Kenyataan pahit yang harus kita terima sebagai rakyat indonesia. Apakah kita harus menerima IPK ini, dan apakah kita harus menerima kelakuan para pemimpin kita yang seharusnya mempunyai kepercayaan untuk membengun bangsa dan negeri ini menjadi lebih baik dan bukan menjadi terpuruk dan hancur ?.

Jika ditingkat asia prestasi kita dalam korupsi bisa dibilang buruk, Begitu pula dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2006 adalah 2,4 dan menempati urutan ke-130 dari 163 negara. Sebelumnya, pada tahun 2005 IPK Indonesia adalah 2,2, tahun 2004 (2,0) serta tahun 2003 (1,9). Hal ini menunjukkan bahwa penanganan kasus korupsi di Indonesia masih sangat lambat dan belum mampu membuat jera para koruptor.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1       Simpulan

Berdasarkan atas pembahasan diatas dan dari rumusan masalah maka dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan Tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan kekuasaannya guna mengeduk keuntungan pribadi atau kelompok dan sangat merugikan kepentingan umum dan sangat bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

3.2       Saran 
            Melihat dari fakta yang ada, bahwa peran pemerintah dalam menjalankan upaya untuk pemberantasan korupsi masih belum maksimal meskipun adanya lembaga-lembaga yang sifatnya independen tetapi masih bisa untuk dilakukan lobi kasus, maka penulis kira masih sangat jauh dari berhasil dalam pemberantasan korupsi ini. Adapun saran yang dapat disampaikan didalam makalah ini adalah hendaknya pemerintah lebih meningkatkan kontrol terhadap lembaga-lembaga yang ada dan lebih menekankan sifat yang independen, kemudian ikut sertakan masyarakat untuk mengntrol jalannya pemerintahan, bisa diwakilkan dengan pembuatan kelompok atau organisasi yang sifatnya independen yang anggotanya berasal dari masyarakat, para aktifis dan mahasiswa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alatas, Syed Hussein. 1986. Sosiologi Korupsi Sebuah Penjelajahan Dengan Datan Kontemporer. Jakarta: LP3ES.

Hehamahua, Abdullah dalam. 2004. “Membangun Sinergi Pendidikan dan Agama dalam Gerakan Anti Korupsi”, dalam buku dalam buku Membangun Gerakan Antikorupsi Dalam Perspektif Pendidikan, Yogyakarta: LP3 UMY, Partnership: Governance Reform in Indonesia, Koalisi Antarumat Beragama untuk Antikorupsi.
Harian REPUBLIKA, 21 Nopember 2003. Islam dan Jalan Pemberantasan korupsi.

Harian Jurnal Bogor, Edisi 24 Juni 2009. Artikel 90 persen dikorupsi.

paulsinlaeloe.blogspot.com/…/korupsi-dan-pemberantasannya.html

http://www.beritakaget.comArsip

 

 

PERBANDINGAN SENYAWA ION DAN SENYAWA KOVALEN

PERBANDINGAN SENYAWA ION DAN SENYAWA KOVALEN

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Dasar

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Arief Rahman Hakim

NIM : 12210010

 

 

SEKOLAH TINGGI MIPA BOGOR

BOGOR

2012

 


BAB I

PEMBUKAAN

1.1       Pendahuluan

Ikatan kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik atau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum. Dalam prakteknya, para kimiawan biasanya bergantung pada teori kuantum atau penjelasan kualitatif yang kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan) dalam menjelaskan ikatan kimia. Secara umum, ikatan kimia yang kuat diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi. Ikatan kimia menjaga molekul-molekul, kristal, dan gas-gas diatomik untuk tetap bersama. Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat.

Kekuatan ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. Pada umumnya, ikatan kovalen dan ikatan ion dianggap sebagai ikatan “kuat”, sedangkan ikatan hidrogen dan ikatan van der Waals dianggap sebagai ikatan “lemah”. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan “lemah” yang paling kuat dapat lebih kuat daripada ikatan “kuat” yang paling lemah.

1.2       Tujuan

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalahsebagai berikut:

  1. Untuk memenuhi tugas susulan praktikum kimia dasar
  2. Untuk mempelajari ikatan kovalen dan ikatan ion
  3. Untuk mengetahui perbedaan senyawa ion dan senyawa kovalen

Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat mendapatkan manfaat bagi pemabaca umumnya dan penulis khususnya.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1                          Ikatan ion

        Ikatan ion (atau ikatan elektrokovalen) adalah jenis ikatan kimia yang dapat terbentuk antara ion-ion logam dengan non-logam (atau ion poliatomik seperti amonium) melalui gaya tarik-menarik elektrostatik. Dengan kata lain, ikatan ion terbentuk dari gaya tarik-menarik antara dua ion yang berbeda muatan. Misalnya pada garam meja (natrium klorida). Ketika natrium (Na) dan klor (Cl) bergabung, atom-atom natrium kehilangan elektron, membentuk kation (Na+), sedangkan atom-atom klor menerima elektron untuk membentuk anion (Cl). Ion-ion ini kemudian saling tarik-menarik dalam rasio 1:1 untuk membentuk natrium klorida. Na + Cl → Na+ + Cl → NaCl.

2.1.1                                            Pembentukan Ikatan Ion

Telah diketahui sebelumnya bahwa ikatan antara natrium dan klorin dalam narium klorida terjadi karena adanya serah terima elektron. Natrium merupakan logam dengan reaktivitas tinggi karena mudah melepas elektron dengan energi ionisasi rendah sedangkan klorin merupakan nonlogam dengan afinitas atau daya penagkapan elektron yang tinggi. Apabila terjadi reaksi antara natrium dan klorin maka atom klorin akan menarik satu elektron natrium. Akibatnya natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi ion negatif. Adanya ion positif dan negatif memungkinkan terjadinya gaya tarik antara atom sehingga terbentuk natrium klorida. Pembentukan natrium klorida dapat digambarkan menggunakan penulisan Lewis sebagai berikut:

 

Pembentukan NaCl

 

Pembentukan NaCl dengan lambang Lewis

Ikatan  ion  hanya  dapat  tebentuk  apabila  unsur-unsur  yang  bereaksi mempunyai perbedaan daya tarik electron   (keeelektronegatifan)  cukup  besar.  Perbedaan  keelektronegati-fan yang  besar  ini  memungkinkan  terjadinya  serah-terima  elektron. Senyawa  biner  logam  alkali  dengan  golongan  halogen  semuanya bersifat ionik. Senyawa logam alkali tanah juga bersifat ionik, kecuali untuk beberapa senyawa yang terbentuk dari berilium.

2.1.2                                            Senyawa ion

Senyawa ion umumnya akan membentuk kristal. Jumlah ion positif dan ion negatif dalam setiap unit kristal tidak dapat ditentukan secara tepat karena semakin besar ukuran kristal semakin banyak jumlah ion-ion penyusunnya. Meskipun demikian, perbandingan jumlah ion-ion positif dan ion-ion negatif selalu tetap. Kristal garam dapur atau NaCl membentuk struktur kristal kubus, setiap sebuah ion Na+ akan dikelilingi oleh enam ion Cl” dan sebaliknya setiap sebuah ion Cl~ akan dikelilingi oleh enam ion Na+ . Jadi, dalam satu unit kristal NaCl perbandingan jumlah ion Na+ : Cl~ = 1:1. Hal ini berarti pula bahwa dalam satu unit kristal NaCl jumlah ion Na+ dan Cl” dapat berjumlah 6, 12, 18, 36 dan seterusnya. Oleh karena itu, rumus kimia garam dapur hanya dapat dinyatakan sebagai rumus empirisnya, yaitu NaCl.

2.1.3        Sifat Senyawa ion

Secara umum C fisis senyawa ion dipengaruhi oleh struktur kristal ion tersebut. Beberapa sifat khas senyawa ion, antara lain :
a. Umumnya senyawa ion dapat larut dalam air. Adanya molekul air akan mengakibatkan ion-ion positif dan ion negatif akan tercerai berai (terpecah) karena gaya tarik molekul-molekul air.
b. Dalam keadaan cair atau terlarut dalam air, senyawa ion dapat menghantarkan arus listrik.
c. Ikatan yang cukup kuat dari ion negatif dan ion positif dengan gaya elektrostatis mengakibatkan titik lebur dan titik didihnya relatif tinggi.
d. Kristal senyawa ion merupakan zat padat yang keras tetapi rapuh (mudah pecah) jika dipukul, sebab adanya benturan mengakibatkan terjadinya pergeseran letak (posisi) ion negatif dan positif, sehingga ion positif akan berhadapan dengan ion positif, demikian pula ion negatif akan berhadapan dengan ion negatif. Akibatnya akan terjadi gaya tolak menolak yang menyebabkan terpecahnya kristal

2.1.4    Penggolongan senyawa ionik

Senyawa ionik dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu

  1. Senyawa ionik sederhana, yaitu senyawa ionik yang mengandung ion-ion yang terdiri dari satu atom. Misalnya: NaCl, MgCl2, Na2O dan MgO.
    1. Senyawa ionik yang mengandung kation sederhana dan anion poliatomik. Misalnya K2SO4, NaNO3 dan K2[HgI2].
    2. Senyawa ionik yang mengandung kation poliatomik dan anion sederhana. Misalnya: NH4Cl, N(CH3)4Br dan [Ag(NH3)2]Cl.
    3. Senyawa ionik yang mengandung anion dan kation poliatomik. NH4NO3, (NH4)2SO4 dan [Co(NH3)6][Cr(CN)6]

Ion poliatomik adalah ion yang terdiri dari dua atau lebih atom dan dapat merupakan ion kompleks seperti [Co(NH3)6]3? dan [Cr(CN)6]3? atau ion bukan kompleks seperti NH4+, N(CH3)4+, NO3? dan SO42?. Senyawaan biner ionik dari unsur-unsur logam golongan IA dan IIA dengan halogen semuanya bersifat ionik kecuali beberapa senyawaan dari berilium. Senyawa ionik sederhana dapat dibentuk dari:

  1. Golongan alkali (golongan 1 atau IA), kecuali H, dengan golongan halogen (VIIA) dan oksigen (VIA) dan nitrogen (VA).

misalnya: LiH, LiBr, Li2O, Li2S, NaCl, Na2S, Na2O, KI, K2O, K2S, Rb2S, RbI, CsCl, CsTe.

  1. Golongan alkali tanah (golongan 2 atau IIA) kecuali berilium (berilium sering membentuk ikatan kovalen) dengan golongan halogen, oksigen dan nitrogen.

misalnya: BeS, BeSe, BeTe, MgS, MgSe, CaO, CaF2, SrO, SrF2, BaO, BaSe.

  1. Sebagian golongan IIIA, golongan IVA dengan golongan halogen, oksigen dan nitrogen.

Misalnya AlN, AlP, TiC, TiO2, GaN, GeO2, SnO2, PbO2.

  1. Beberapa logam transisi yang bilangan oksidasinya rendah dengan golongan halogen, oksigen dan nitrogen.

Misalnya LaN, FeF, CoF2, NiF2, CuCl, CuCl2, ZnS, CdSe

 

 

2.1  Ikatan kovalen

Ikatan kovalen adalah sejenis ikatan kimia yang dikarakterisasikan oleh pasangan elektron yang saling terbagi (kongsi elektron) di antara atom-atom yang berikatan. Singkatnya, stabilitas tarikan dan tolakan yang terbentuk di antara atom-atom ketika mereka berbagi elektron dikenal sebagai ikatan kovalen. Ikatan Kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam).

2.1.1        Pembentukan ikatan kovalen

Pembentukan ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi serta beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion. Atom non logam cenderung untuk menerima elektron sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat dilakukan dengan cara mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk pasangan elektron yang dipakai secara bersama. Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2 elektron).

2.1.2        Senyawa kovalen

Senyawa yang berikatan kovalen disebut senyawa kovalen . Hampir semua senyawa kovalen terbentuk dari atom-atom non-logam. Dua atom nonlogam saling menyumbangkan elektron sehingga tersedia satu atau lebih pasangan elektron yang dijadikan milik bersama.
Pengukuran dilaboratorium menunjukkan bahwa pada umumnya
ikatan yang nyata tidak sepenuhnya kovalen tetapi memiliki campuran sifat
ionic dan kovalen. Ikatan yang dicirikan oleh perpindahan muatan
secara parsial disebut kovalen polar. Pada umumnya semakin besar
perbedaan kelektronegarifan maka semakin polar senyawanya. Perbedaan
inidi tetentukan berdasarkan skala pauling.

2.1.3    Sifat Sifat Senyawa Kovalen

1. Titik didih

Pada umumnya senyawa kovalen mempunyai titik didih yang rendah (rata-rata di bawah suhu 200 0C). Sebagai contoh Air, H2O merupakan senyawa kovalen. Ikatan kovalen yang mengikat antara atom hidrogen dan atom oksigen dalam molekul air cukup kuat, sedangkan gaya yang mengikat antar molekul-molekul air cukup lemah. Keadaan inilah yang menyebabkan air dalam fasa (bentuk) cair akan mudah berubah menjadi uap air bila dipanaskan sampai sekitar 100 0C, akan tetapi pada suhu ini ikatan kovalen yang ada di dalam molekul H2O tidak putus.

2.  Volatitilitas (kemampuan untuk menguap)

Sebagian besar senyawa kovalen berupa cairan yang mudah menguap dan berupa gas. Molekul-molekul pada senyawa kovalen yang mempunyai sifat mudah menguap sering menghasilkan bau yang khas. Parfum dan bahan pemberi aroma merupakan senyawa kovalen contoh dari senyawa kovalen yang mudah menguap
3. Kelarutan

Pada Umumnya senyawa kovalen tidak dapat larut dalam air, tetapi mudah larut dalam pelarut organik. Pelarut organik merupakan senyawa karbon, misalnya bensin, minyak tanah, alkohol, dan aseton. Namun ada beberapa senyawa kovalen yang dapat larut dalam air karena terjadi reaksi dengan air (hidrasi) dan membentuk ion-ion. Misalnya, asam sulfat bila dilarutkan ke dalam air akan membentuk ion hidrogen dan ion sulfat. Senyawa kovalen yang dapat larut dalam air selanjutnya disebut dengan senyawa kovalen polar, sedangkan senyawa kovalen yang tidak larut dalam air selanjutnya disebut dengan senyawa kovalen non polar.

 4.      Daya hantar Listrik

Pada umumnya senyawa kovalen pada berbagai wujud tidak dapat menghantar arus listrik atau bersifat non elektrolit, kecuali senyawa kovalen polar. Hal ini disebabkan senyawa kovalen polar mengandung ion-ion jika dilarutkan dalam air dan senyawa tersebut temasuk senyawa elektrolit lemah. Berikut ini gambar perbedaan antara senyawa non elektrolit, elektrolit lemah dan elektrolit kuat.

2.1.4    Penggolongan Senyawa kovalen

a. Ikatan Kovalen Tunggal

Contoh:

1H = 1

9F = 2, 7

Atom H memiliki 1 elektron valensi sedangkan atom F memiliki 7 elektron valensi. Agar atom H dan F memiliki konfigurasi elektron yang stabil, maka atom H dan atom F masing-masing memerlukan 1 elektron tambahan (sesuai dengan konfigurasi elektron He dan Ne). Jadi, atom H dan F masing-masing meminjamkan 1 elektronnya untuk dipakai bersama.

b. Ikatan Kovalen Rangkap Dua

Contoh:

Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2

Konfigurasi elektronnya :

8O= 2, 6

Atom O memiliki 6 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil tiap-tiap atom O memerlukan tambahan elektron sebanyak 2. Ke-2 atom O saling meminjamkan 2 elektronnya, sehingga ke-2 atom O tersebut akan menggunakan 2 pasang elektron secara bersama.

c. Ikatan Kovalen Rangkap Tiga

Contoh:

Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2

Konfigurasi elektronnya :

7N = 2, 5

Atom N memiliki 5 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil tiap-tiap atom N memerlukan tambahan elektron sebanyak 3. Ke-2 atom N saling meminjamkan 3 elektronnya, sehingga ke-2 atom N tersebut akan menggunakan 3 pasang elektron secara bersama.

d. Ikatan Kovalen Koordinasi / Koordinat / Dativ

Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.

Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan dengan tanda anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron.

Contoh:

Terbentuknya senyawa BF3 – NH3

e. Polarisasi Senyawa Kovalen

Ikatan kovalen dapat mengalami polarisasi, maka dari itu dikenal ada 2 :

  • Ikatan kovalen polar
  • Ikatan kovalen nonpolar

Suatu ikatan kovalen disebut polar, jika Pasangan Elektron Ikatan (PEI) tertarik lebih kuat ke salah 1 atom.

Contoh pada Molekul HCl :

Meskipun atom H dan Cl sama-sama menarik pasangan elektron, tetapi keelektronegatifan Cl lebih besar daripada atom H. Akibatnya atom Cl menarik pasangan elektron ikatan (PEI) lebih kuat daripada atom H sehingga letak PEI lebih dekat ke arah Cl (akibatnya terjadi semacam kutub dalam molekul HCl).

Suatu ikatan kovalen dikatakan nonpolar jika PEI (pasangan elektron ikatan) tertarik sama kuat ke semua atom. Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan oleh adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom-atom yang berikatan. Sebaliknya, suatu ikatan kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI tertarik sama kuat ke semua atom.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.Kesimpulan

Senyawa ion umumnya akan membentuk kristal. Jumlah ion positif dan ion negatif dalam setiap unit kristal tidak dapat ditentukan secara tepat karena semakin besar ukuran kristal semakin banyak jumlah ion-ion penyusunnya. Meskipun demikian, perbandingan jumlah ion-ion positif dan ion-ion negatif selalu tetap.Senyawa yang berikatan kovalen disebut senyawa kovalen . Hampir semua senyawa kovalen terbentuk dari atom-atom non-logam. Dua atom nonlogam saling menyumbangkan elektron sehingga tersedia satu atau lebih pasangan elektron yang

 dijadikan milik bersama .
DAFTAR PUSTAKA

 

 

id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kimia

id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kovalen

http://www.file-edu.comKIMIAkimia kelas 3

plengdut.blogspot.com/2012/10/ikatankovalen.html

naneyan.wordpress.com/2012/02/03/sifat-sifat-senyawakovalen.HTML

www.chem-is-try.org/materi_kimia/…/penamaan-senyawaio

id.shvoong.com › SainsKimia

zonaliakimiapasca.wordpress.com/…/elektrolit-berupa-senyawaion-d.

id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_ion

http://budisma.web.id/materi/sma/kimia-kelas-x/perbandingan-sifat-senyawa-ion-dan-kovalen/

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/sifat-senyawa-ion-senyawa-kovalen-dan-ikatan-kovalen-koordinat/

Pribadi Muhammad SAW

 

Jika boleh bertanya—terlepas dari, bahwa hal ini sudah bagian dari suratan takdir—ada satu pertanyaan yang perlu diajukan untuk menjadi bahan kajian sejarah. Pertanyaan tersebut adalah, “Nilai lebih apakah yang dimiliki oleh beliau sehingga beliau dipilih oleh Allah menjadi utusannya?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat latar belakang kehidupan beliau, sebelum beliau “resmi” menjadi utusan Allah. Pertama, dari sisi nasab—seperti yang sudah kita bahas sebelum ini—beliau berasal dari keluarga yang terhormat; dan jika diruntut lebih jauh, beliau adalah bagian dari keturunan Nabi Ibrahim as. Kedua, dari sisi kepribadian, kita akan melihat banyak sekali karakter kuat yang dimiliki beliau, diantaranya:

Al Amin. Inilah julukan yang diberikan penduduk Mekkah kepada beliau. Al Amin artinya yang dipercaya. Gelar ini diberikan karena kejujuran beliau. An Nashr bin Al Harits, musuhnya, pernah menyaksikan dan mengakui kejujuran Muhhamd saw. ”Semasa dia muda kamu suka kepadanya lantaran dia paling jujur, paling lurus perkataannya, paling setia memegang janji.” Abu Sufyan, musuh beliau juga waktu itu, pernah ditanya oleh Emperor Hiraclius, “Sebelum dia membawa seruan ini, pernahkah kamu kenal dia sebagai seorang pembohong?” Jawab Abu Sufyan, “Tidak pernah sekali-kali.” Bukti lain atas kejujuran beliau adalah dipercayakannya urusan perdagangan milik Khadijah, seorang saudagar kaya dan dihormati, kepada beliau.

Bersahaja. Beliau tidak mendapat harta waris yang melimpah. Ayahanda beliau, Abdullah, hanya meninggalkan lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan bernama Umm Ayman. Bahkan kesediaann beliau untuk mendapat upah dari menjalankan urusan dagang Khadijah ke Syam adalah berkaitan dengan kondisi ekonomi beliau. Inilah cuplikan percakapan beliau dengan Abu Thalib dan Khadijah soal itu. “Anakku”, kata Abu Thalib, “aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?” “Terserahlah paman, “ jawab Muhammad. Abu Thalib pun pergi mengunjungi Khadijah. “Aku dengar engkau mengupah orang dengan dua ekor unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor.” “Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai,” jawab Khadijah.
Ketika beliau akan diminta oleh Khadijah untuk mengawininya—lewat perantara Nufaisa bint Mun-ya—beliau berkata, “Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan!

Jiwa kepemimpinan; yang oleh beliau ditunjukkan dengan kemampuan untuk menggembala kambing. Secara filosofis, mengembala kambing memiliki makna kepemimpinan. Beliau bersabda, “Nabi-nabi yang diutus oleh Allah adalah pengembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad). Dalam Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam terdapat hadis lain berkaitan dengan ini, “Tidak ada nabi pun melainkan ia mengembala kambing.” Ditanyakan kepada beliau, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw bersabda, “Ya, termasuk aku.”

Jiwa kepemimpinan beliau terlihat ketika terjadi perselisihan peletakan hajar aswad antarkabilah Quraish tentang siapakah yang berhak meletakkannya. Akhirnya seorang yang dituakan, Abu Umayyah bin Al Mughirah al Makhzumi, memberi alternatif bahwa yang berhak meletekkan batu itu adalah dia yang pertama kali masuk ke Ka’bah melalui pintu Shafa. Ternyata yang pertama kali masuk adalah Muhammad saw. Maka, dengan sangat fantastis, Muhammad saw memberi terobosan penyelesaian masalah itu yakni dengan “melibatkan” seluruh kabilah atas peletakan Hajar Aswad dengan cara memegang ujung-ujung kain yang di tengahnya diletakkan batu itu. Dan akhirnya, beliau sendiri yang meletakkan batu tersebut pada bangunan Ka’bah.
Kemandirian. Kemandirian beliau dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, kondisi beliau yang ditinggal oleh orang tuanya sebelum beliau mengenalnya. Beliau ditinggal ayahnya saat masih dalam kandungan dan ditinggal ibundanya saat masih kecil. Tidak cukup itu, beliau ditinggal pula oleh kakeknya Abdul Muthalib, yang merawat sepeninggal ibundanya, saat masih berusia delapan tahun. Keadaan yatim-piatu dan kehilangan kakek ini tentu menempa jiwa beliau untuk bersikap mandiri. Kedua, persentuhan beliau dengan dunia perdagangan mengandung makna tersendiri dalam potret kemandirian ini. Seperti dikenal belakangan ini dunia entrepreneurship (kewirausahaan) adalah dunia yang lekat dengan kemandirian karena pengambilan keputusan lebih bisa dilakukan secara mandiri dibanding dengan dunia birokrasi. Sebelum menjalankan perniagaan Khadijah ke negeri Syam, Muhammad saw pernah juga berniaga dan berkongsi dengan seorang saudagar kecil bernama As Saa’ib bin Abis Saab (Hamka, Sejarah Umat Islam)

Clean. Beliau bersih dari anasir-anasir tercela. Pertama, beliau bebas dari penyembahan berhala. Salah satu fragmen percakapan Buhaira dengan Muhammad saw berikut ini menjadi salah satu argumennya. “Hai anak muda, dengan menyebut nama Al Lata da Al Uzza aku bertanya kepadamu dan engkau harus menjawab aku tanyakan kepadamu.” Buhaira bertanya seperti itu, karena ia mendengar bahwa kaum Rasulullah saw bersumpah dengan Al Lata dan Al Uzza. “Jangan bertanya tentang sesuatu apa pun kepadaku dengan menyebut nama Al Lata dan Al Uzza. Demi Allah, tidak ada yang sangat aku benci melainkan keduanya,” kata Muhammad saw. Kedua, beliau bersih dari pemikiran nafsu duniawi. Ketika beliau sedang mengembala kambing dengan seorang kawannya pada suatu senja, tiba-tiba terlintas dalam hatinya bahwa ia ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain di gelap malam di Mekkah. Sesampainya di ujung Mekkah, perhatian beliau tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam berikutnya beliau datang lagi ke Mekkah, dengan maksud yang sama. Terdengan oleh beliau irama musik yang indah. Ia duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.

Beliau tidak pernah minum khamr, tidak pernah makan daging yang disembelih atas nama berhala, dan tidak pernah menghadiri pesta-pesta yang diselenggarakan untuk berhala. Beliau juga terjaga auratnya, bahkan sejak kecil tidak pernah telanjang kecuali pada suatu peristiwa yang akhirnya menyedarkannya kembali. “Pada masa kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraish mengangkat batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami telanjang dan meletakkan bajunya di pundaknya (sebagai ganjalan) untuk memikul batu. Aku maju dan mundur bersama mereka, namun tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. Ia berkata, ‘Kenakan pakaiannmu!’ Kemudian aku mengambil pakaiannku dan memakainya. Setelah itu aku memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman-temanaku.”

Puncak dari kebersihan Muhammad saw adalah kebiasaan beliau untuk melakukan tahannuf atau tahannuth (berasal dari kata hanif yang berarti ‘cenderung kepada kebenaran’), yaitu kebiasaan mengasingkan diri dari keramaain orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bertapa dan berdoa. Dengan tahannuth beliau melakukan perenungan dan pencarian kebenaran.

Pemberani. Beliau sangat pemberani, karena pada umur empat belas tahun sudah ikut perang Al Fijjar, yaitu peperangan antara Quraish yang didukung Kinanah melawan Qais Ailan. Dinamakan perang fijjar karena melanggar tanah suci dan bulan-bulan suci (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Dalam perang ini beliau berperan membantu mempersiapkan anak-anak panah untuk paman beliau (dalam keterangan lain beliau ikut pula melemparkan panah).

Komunikator Ulung.
Hamka menulis bahwa Muhammad kenal betul akan kesukaan dan pergaulan bangsa Arab, demikian juga langgam bicara tiap-tiap negeri Arab. Tiap-tiap kabilah dilawannya berbicara menurut lidah kabilah itu! Perkataanya lemah manis tersusun dan tertib, berfasal, beratur, dapat dihafal dan dimenungkan, faham siapa yang mendengar, seakan-akan mutiara yang disusun layaknya. Kata Aisyah: “Rasulullah tidak pernah bercakap berseloroh sebagai cakapku ini, perkataannya tersusun, berhujung dan berpangkal.” Berkata Ibnu Abi Haalah, “Senantiasa dia berdukacita, selalu dia berfikir. Tak pernah senang diam, tidak dia bercakap kalau tidak perlu, panjang diamnya, dimulai perkataannya dan dikuncinya dengan teratur, perkataanya itu penuh berisi, tidak banyak bunga dan tidak terlalu ringkas, lemah manis tidak tegang dan tidak kendur.”

Budinya tinggi, pemaaf, penyantun, sabar, adil, tawadhu’, hormat pada orang tua, kasih pada yang muda, dermawan, bermalu

Diantaranya karakter kuat di atas, ada empat sifat asasi yang beliau miliki, yang oleh Said Hawwa (Ar Rasul, Gema Insani Press. Jakarta: 2003) wajib bagi setiap rasul Allah.

Ash Shidqul Muthlaq (kejujuran secara mutlak)

Al Iltizamul Kamil (komitmen dan sifat amanah yang             sempurna)

At Tablighul Kamil (penyampai kandungan risalah                 secara  sempurna).

Al Aqlul Azhim (intelegensi yang cemerlang).

Fisik yang Prima

Sebagai manusia, beliau dapat dilukiskan, bahkan dilukis, karena informasi tentang fisik, penampilan, dan perawakan beliau amat kaya. Kalau bukan karena penghormatan, atau kekhawatiran tentang dampak negatifnya, niscaya tidak ada larangan untuk melukis beliau, demikian pendapat M. Quraish Shihab (Secercah Cahaya Ilahi – Hidup Bersama Al Qur’an: Jakarta: Mizan, 2000; Baca juga Said Hawwa, Ar Rasul, Gema Insani Press. Jakarta: 2003).

Berikut adalah ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh Muhammad saw: Tingginya sedang-sedang saja, tidak gemuk tidak pula kurus. Bahunya lebar, dadanya bidang, ototnya kekar, dan kepalanya sedikit besar. Rambutnya hitam gelap, sedikit ikal, terurai sampai ke pundaknya dan selalu tersisir rapi. Dalam usianya yang lanjut, hanya terdapat sekitar dua puluh lembar ubannya. Uban itu, menurut beliau, akibat ketegangannya saat menerima Surah Hud yang mengandung ancaman.

Mukanya bulat, menarik bagai purnama. Matanya hitam cemerlang dan bersinar, tetapi putih matanya sangat jernih. Bulu matanya hitam, panjang dan tebal sehingga terlihat bagaikan memakai celak.

Hidungnya mancung sedikit besar, giginya tersusun rapi dan diurusnya tidak kurang dari sepuluh kali sehari dengan menggunakan siwak. Kulitnya bersih dan lembut. Warnanya campuran “putih kemerah-merahan”.

Tangannya laksana sutra, bagai kelembutan tangan wanita. Langkahnya cepat dan luwes, seperti seorang yang turun dari ketinggian. Bahasanya jelas dan indah terdengar. Seringkali, ketika berbicara, beliau menggelengkan kepala atau menepuk telapak tangannya dengan jari telunjuk serta menggigit-gigit bibirnya. Kalimat-kalimatnya yang penting seringkali diulangi hingga tiga kali, agar dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh pendengarnya.

Bila menoleh, beliau menoleh dengan seluruh badannya; dan bila menunjuk; beliau menunjuk dengan seluruh jarinya. Perawakannya gagah, penuh wibawa, tetapi simpatik. Selalu tersenyum walau tawanya jarang dan gelaknya tidak terdengar.

Sidojangkung, 19 April 2005

Disampaikan pada kuliah Sirah Nabawi, BEST FOSI Surabaya

 

Analisis Cemaran Bakteri Staphylococcus aureus Pada Contoh Keju dan Susu BubuK

Analisis Cemaran Bakteri Staphylococcus aureus Pada Contoh Keju dan Susu Bubuk
Oleh :
ARIEF RAHMAN HAKIM
LAPORAN PKL
SMK ANALIS KIMIA YKPI BOGOR
2010
PENDAHULUAN
Bahan makanan terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Bahan makanan merupakan medium pertumbuhan yang baik bagi berbagai macam mikroorganisme (Chan Dan Pelcjar, 1988). Prosses-proses peruraian dapat dituliskan sebagai berikut :
Makanan Berprotein + Organisme Proteolitik  → Asam Amino + Ammonia + Amina     + H2S
Makanan Berkarbohidrat + Organisme Peragi   → Asam + Alkohol + Gas
Makanan   Berlemak      + Organisme Lipotik             → Asam Lemak + Gliserol
TINJAUAN PUSTAKA
Susu
Susu adalah cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina (http://id.wikipedia.org/wiki/Susu). Dipandang dari  segi gizi, susu merupakan makanan yang   hampir sempurna, dimana susu  mengandung protein, lemak, vitamin, mineral dan laktosa   (karbohidrat). Susu bisa menjadi sumber penyakit bagi manusia apabila pengolahan terhadap susu tersebut tidak higienis (http://candyman21.blogspot.com/2009/01/uji-mikrobiologi-susu.html).
  • Syarat Susu Yang Baik
Syarat susu yang baik meliputi yaitu Warna susu putih kebiruan hingga kuning keemasan, terasa sedikit manis dan asin (gurih) dan Bau susu umumnya sedap. Berat jenis air susu adalah 1,028 kg/L. Titik beku Titik beku susu di Indonesia adalah -0,520 °C, sedangkan titik didihnya adalah 100,16 °C. Susu segar mempunyai sifat amfoter, artinya dapat berada di antara sifat asam dan sifat basa. Secara alami pH susu segar berkisar 6,5–6,7. Bila pH susu lebih rendah dari 6,5, berarti terdapat kolostrum ataupun aktivitas bakteri (http://id.wikipedia.org/wiki/Susu).
  • Mikrobiologi Susu
Susu mengandung bermacam-macam unsur dan sebagian besar terdiri dari zat makanan yang juga diperlukan bagi pertumbuhan bakteri. Oleh karenanya pertumbuhan bakteri dalam susu sangat cepat, pada suhu yang sesuai. Jenis-jenis Micrococcus dan Corybacterium sering terdapat dalam susu yang baru diambil (http://candyman21.blogspot.com/2009/01/uji-mikrobiologi-susu.html).
Pengertian Keju dan Susu Bubuk
Dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu. Karena air susu adalah bahan baku dari semua produk susu, Keju dan susu bubuk merupakan produk dari susu. Keju adalah sebuah makanan yang dihasilkan dengan memisahkan zat-zat padat dalam susu melalui proses pengentalan atau koagulasi dengan bantuan bakteri atau enzim tertentu yang disebut rennet.  (http://id.wikipedia.org/wiki/Keju). Susu bubuk adalah bubuk yang dibuat dari susu kering yang solid. Susu kering dianggap tidak mudah rusak dikarenakan sedikitnya kandungan air (bakteri sangat cepat berkembangbiak pada makanan yang basah atau minuman) (http://id.wikipedia.org/wiki/Susu_bubuk).
Stahylococcus aureus
Gambar 1.  Staphylococcus aureus  (stapylococcusureushttp://id.wikipedia.org/wiki/staphylococcus_aureus).


Kingdom      : Monera
Division       
: Firmicutes
Class           
: Bacilli
Order          
: Bacillales
Family    : Staphylococcaceae
Genus    
: Staphylococcus
Species    
: Staphylococcus aureus


Staphylococcus aureus   adalah bakteri bola berpasang-pasangan atau berkelompok seperti buah anggur dengan diameter antara 0,8 mikron-1,0 mikron, non motil, tidak berspora dan bersifat gram positif. Namun kadang-kadang ada yang bersifat gram negatif yaitu pada bakteri yang telah difagositos atau pada biakan tua yang hampir mati (SNI 7388:2009, 2009). Staphylococcus aureus   adalah bakteri aerob dan anaerob fakultatif yang mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase, hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Untuk pertumbuhan optimum diperlukan sebelas asam amino, yaitu valin, leusin, threonin, phenilalanin, tirosin, sistein, metionin, lisin, prolin, histidin dan arginin. Pada media yang tidak berprotein sukar tumbuh(http://queenofsheeba.wordpress.com/2008/07/22/baktristaphylococcus-aureus/).
1.      Gejala Dan Infeksi Akibat Staphylococcus aureus  
Peracunan makanan Staphylococcus aureus disebabkan oleh antigen nyata polypeptida yang berfungsi sebagai penghasil emetiktoksin, dikenal enterotoksin. Lima enterotoksin yang dikenal yaitu A, B, C, D dan E (Toronto, 1978). Gejala yang sering timbul yaitu mata kunang-kunang, pegal pada tangan dan kaki, lunglai dll. Infeksi oleh Staphylococcus aureus    ada dua yaitu infeksi permukaan seperti bisul (furunkel sampai karbunkel), jerawat/acne, korengan, paranochya, hordeoleum, mastitis puerpuralis, pemfigus dan infeksi organ dalam seperti endocarditis, osteomyelitis, arthritis, infeksi ginjal, infeksi paru-paru, infeksi saluran kemih (http://antiserra.wen.su/coccus.html).
2.      Faktor Pencemar Dan Pencegahan Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Pada Susu
Faktor kebersihan yang kurang dari para pekerja di dalam proses pemerahan atau proses pengolahan di industri bisa mengkontaminasi, selain daripada itu Sapi pun bisa menjadi faktor pencemar karena bakteri ini dapat masuk kedalam kelenjar susu pada sapi dan sapi akan terinfeksi (Maroney, 2005). Kontaminasi bisa ditangani dan dicegah dengan pasteurisasi pada susu mentah, penggunaan bahan-bahan yang bebas dari Staphylococcus aureus, pengawasan terhadap pekerja yang terinfeksi Staphylococcus, pendinginan makanan, penyesuaian jumlah keasaman pH, dan bisa dengan penambahan zat penghambat bakteri, seperti serin atau antibiotic yang telah direkomendasikan (Fraizeiri Dan Westthoof, 1978).
3.      Garis Besar Pengujian Staphylococcus aureus
Prinsip dari metode ALT adalah jika sel renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar maka sel jasad renik tersebut akan berkembangbiak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung oleh mata tanpa menggunakan mikroskop.
metoda ALT menggunakan medium padat (agar), dalam metode APM digunakan medium cair di dalam tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh mikrob setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung inkubasi yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan, atau terbentuknya gas di dalam tabung durham untuk mikrobe pembentuk gas (Fardiaz, 1998).
Uji Konfirmasi
o   Pewarnaan gram
Cara pewarnaan ini merupakan cara pewarnaan diferensial, dimana dengan cara pewarnaan ini bakteri dapat dibedakan menjadi gram positif dan gram negatif. Perbedaan dari kedua grup bakteri tersebut disebabkan oleh perbedaan dalam lapisan- lapisan di dinding selnya  (Fardiaz, 1998).
o   Uji katalase
Bakteri katalase positif bisa menghasilkan gelembung-gelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2 (hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu sendiri. Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini harus dipecah agar tidak bersifat toksik lagi   (http://cahpoetra.blogspot.com/2010/04/cara-mengujienzinkatalase.html).
o   Koagulase
Koagulase merupakan protein ekstraseluler yang mengikat prothrombin hospes dan membentuk komplek yang disebut staphylothrombin.(http://koas.vetklinik.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=5&itemid=53&limitstart=5).
o   Uji Motilitas
Motilitas ini dimaksudkan melihat pergerakan dengan menggunakan (Primanurjaman, 2005).
o   Nitrat
Nitrit diurai menjadi asam nitrit, membentuk nitrosomyglobin ketika bereaksi dengan pigmen dalam daging dan kemudian membentuk warna merah yang stabil. Nitrat mungkin hanya bereaksi sebagai reservoir untuk nitrit. Nitrit ini bisa bereaksi dengan amina membentuk nitros amines, yang diketahui bersifat karsinogenik (Fraizer dan Wesrhoof, 1978).
o   Fermentasi karbohidrat menghasilkan asam
Uji ini digunakan untuk menemukan bakteri yang dapat mengurai karbohidrat baik oksidasi maupun (Primanurjaman, 2005).
o   Uji pertumbuhan anaerob
Kemampuan untuk tumbuh di udara merupakan sifat yang terdapat pada setiap bakteri, kecuali pada kondisi anaerob. Bakteri yang tidak dapat tumbuh di udara dimungkinkan karena kekurangan CO2 (Primanurzaman, 2005 ).
o   Uji IMViC
Uji IMViC bukan uji rekomendasi tetapi dilakukan hanya untuk mengetahui reaksi IMViC yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus. uji Indol”. Beberapa mikroorganisme mengurai triptone menjadi asam piruvat, amonia, dan indol yang akan bereaksi dengan p-dimetilaminobenzaldehid membentuk warna merah yang dihasilkan oleh pereaksi yang terdiri dari p-dimetilaminobenzaldehid , butanol dan asam klorida (Yulianty, 2008). “Uji Merah metil “ dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan mikroorganisme yang mengoksidasi glukosa dengan menghasilkan asam (Primanurjaman, 2005). Sedangkan, “Uji Voges Proskauer” menentukan kemampuan beberapa mikroorganisme yang menghasilkan selain asam yaitu asetil metil (Yulianty, 2008). “Dan pada uji sitrat”, Sitrat dijadikan sebagai sumber karbon jika tidak ada glukosa atau laktosa (Primanurjaman, 2005).
2.Baku Mutu Pengujian Staphylococcus aureus
Table 1.  Perbandingan 3 Metode Standar
Nno
Perbandingan
BAM
SLS
SNI
11
Angka lempeng total:
~    Cara
Sebar
Sebar
Sebar
~    Inokulasi
  1 ml (0,4ml;0,3ml;0,3ml)
0,1ml
0,1ml
~    Suhu inkubasi
35 0C
37 ± 1 0C
36 ± 1 0C
~    Waktu inkubasi
45-48 jam
22
Angka paling mungkin
~    Inokulasi
1ml
1ml
~    Suhu inkubasi
35 0C
36 ± 1 0C
~    Waktu inkubasi
48 ± 2 jam
33
Biokimia
§  Koagulase
Koagulase
Koagulase
§  Katalase
§  Fer.Glukos (anaerob)
§  Fer.Manitol (anaerob)

 

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengujian Angka Lempeng Total Staphylococcus aureus Pada Contoh Susu Bubuk Berdasarkan SLS 516 : 1992
Berikut ini merupakan data mengenai hasil pengujian susu bubuk  menggunakan metode ALT berdasarkan SLS 516 : 1992, dituliskan sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil pengujian angka lempeng total Staphylococcus aureus pada contoh susu bubuk berdasarkan SLS 516 : 1992
No
Contoh
Kode
Baird Parker Agar
Hasil
(kol/gram)
Persyaratan
101
102
103
1
Susu Bubuk A1
PP114
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
2
Susu Bubuk  A1
PP115
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
3
Susu Bubuk A2
PP116
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
4
Susu Bubuk  A2
PP117
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
5
Susu Bubuk  A3
PP118
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
6
Susu Bubuk A3
PP119
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
7
Susu Bubuk A4
PP120
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
8
Susu Bubuk A4
PP121
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g

 

9
Susu Bubuk A5
PP122
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
10
Susu Bubuk A5
PP123
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
11
Susu Bubuk B1
PP124
0
0
0
<10
1 x 102 kol/g
12
Susu Bubuk B1
PP125
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
13
Susu Bubuk B2
PP126
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
14
Susu Bubuk B2
PP127
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
15
Susu Bubuk B3
PP128
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
16
Susu Bubuk B3
PP129
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
17
Susu Bubuk B4
PP130
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
18
Susu Bubuk B4
PP131
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
19
Susu Bubuk B5
PP132
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
20
Susu Bubuk B5
PP133
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
21
Susu Bubuk A1 Creamy
PP134
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
22
Susu Bubuk A1 Creamy
PP135
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
23
Susu Bubuk A2 Creamy
PP136
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
24
Susu Bubuk A2 Creamy
PP137
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
25
Susu Bubuk A3 Creamy
PP138
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
26
Susu Bubuk A3 Creamy
PP139
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
27
Susu Bubuk A4 Creamy
PP140
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
28
Susu Bubuk A4 Creamy
PP141
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
29
Susu Bubuk A5 Creamy
PP142
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
30
Susu Bubuk A5 Creamy
PP143
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
31
Susu Bubuk B1 Full Cream
PP144
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
32
Susu Bubuk B1 Full Cream
PP145
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
33
Susu Bubuk B2 Full Cream
PP146
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
23
Susu Bubuk B2 Full Cream
PP147
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
34
Susu Bubuk B3 Full Cream
PP148
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
35
Susu Bubuk B3 Full Cream
PP149
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
36
Susu Bubuk B4 Full Cream
PP150
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
37
Susu Bubuk B4 Full Cream
PP151
0
0
0
<10
1 x 102 Kol/g
Hasil Pengujian Angka Paling Mungkin Staphylococcus aureus Pada Contoh Keju Berdasarkan  SNI 01 – 2897 – 1992
Berikut ini merupakan data mengenai hasil pengujian menggunakan metode APM berdasarkan SNI 01 – 2897 – 1992, dituliskan sebagai berikut :
Table 2.  Hasil pengujian angka paling mungkin  Staphylococcus aureus pada contoh keju berdasarkan SNI 01 – 2897 – 1992
No
Contoh
Kode
Tripticase Soy Broth
Hasil
(Kol/gram)
Persyaratan
101
102
103
1
Keju A
PP96
0
0
0
1 X 102 Kol/g
2
Keju B
PP97
0
0
0
1 X 102 Kol/g
3
Keju C
PP98
0
0
0
1 X 102 Kol/g
Hasil Uji Konfirmasi Pada Kontrol Positif  Staphylococcus aureus
Uji konfirmasi yang dilakukan diantaranya pewarnaan gram, koagulase, katalase, uji fermentrasi karbohidrat, uji nitrat, motilitas dan uji IMViC. Hasil dari pengujian dituliskan pada tabel dibawah ini :
Table 5.  Hasil uji konfirmasi pada control positif Staphylococcus aureus
Uji
Positif
Negatif
Staphylococcus aureus
Gram
Biru
Merah
+
Koagulase
Menggumpal
Tidak bereaksi
+
Katalase
Bergelembung
Tidak bereaksi
+
Fermentasi karbohidrat:
Dektrosa
Kuning
Merah
Laktosa
Kuning
Merah
+
Sukrosa
Kuning
Merah
+
Mannitol
Kuning
Kuning hitam
+
Glukosa
Kuning
Ungu
+
Mannitol(anaerob)
Kuning
Kuning hitam
+
Glukosa(anaerob)
Kuning
Ungu
+
Nitrat
Oranye
Tidak bereaksi
+
Motility
Menyebar
Lurus
Indol
Merah
Kuning
Merah metil
Merah
Kuning
+
Vp
Merah
Kuning
+
Sitrat
Biru
Hijau
Pembahasan Pengujian Angka Lempeng Total Staphylococcus aureus Pada Contoh Susu Bubuk Berdasarkan SLS 516 : 1992
Angka lempeng total digunakan untuk uji bakteri yang diperkirakan jumlahnya banyak. Metode ALT untuk penetapan keberadaan Staphylococcus aureus menggunakan cara sebar ke perbenihan yang telah kering yaitu pada medium Baird Parker Agar.
Susu merupakan media yang paling lengkap memiliki nutrisi untuk pertumbuhan bakteri, oleh karena itu digunakan metode ALT. Dari hasil 37 contoh susu bubuk yang diuji keberadaan Staphylococcus aureus berdasarkan SLS 516 : 1992, semua dinyatakan < 10 koloni oleh karena bakteri Staphylococcus aureus tidak positif dan menunjukan uji konfirmasi yang negatif.
Pembahasan Pengujian Angka Paling Mungkin Staphylococcus aureus Pada Contoh Keju Berdasarkan  SNI 01 – 2897 – 1992
Metode angka paling mungkin digunakan untuk uji bakteri yang diperkirakan jumlahnya sedikit. Keju diuji menggunakan metode ini dikarenakan pertumbuhan Staphylococcus aureus  pada keju diperkirakan sedikit, bisa disebabkan bakteri mati pada saat proses pembuatannya. Dari hasil pengujian Dari hasil 3 contoh keju yang diuji keberadaan Staphylococcus aureus berdasarkan SNI 01 – 2897 – 1992 dinyatakan dinyatakan < 3 koloni oleh karena bakteri Staphylococcus aureus tidak positif dan menunjukan uji konfirmasi yang negatif.
Pembahasan Uji Konfirmasi Yang Dilakukan Pada Kontrol Positif  Staphylococcus aureus
Pembahasan pewarnaan gram, koagulase, katalase, uji fermentrasi karbohidrat, uji nitrat, motilitas dan uji IMViC dijelaskan sebagai berikut :
A.          Pewarnaan Gram
Dari pewarnaan gram didapat hasil pengamatan perbesaran 1000x bahwa Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat/kokkus bergerombol seperti buah
Gambar 2. Gram positif.              anggur.
B.           Uji Katalase
Staphylococcus aureus mampu memecah H2O2 karena komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini dipecah olehnya agar tidak bersifat toksik.
C.           Uji Koagulase
Uji koagulase merupakan uji yang dapat mewakili bahwa bakteri tersebut adalah genus Staphylococcus tetapi karena mempunyai 3 spesies maka untuk mengetahui bakteri tersebut Staphylococcus aureus perlu dilakukan uji pertumbuhan mannitol dan glukosa dalam kondisi anaerob, dimana apabila bakteri tersebut Staphylococcus aureus akan menghasilkan reaksi positif.
D.          Uji Fermentasi Karbohidrat
Staphylococcus aureus mampu memfermantasi dan mengoksidasi karbohidrat yang dapat menghasilkan asam dengan ditandai perubahan warna menjadi kuning pada sukrosa, laktosa, mannitol, dan glukosa kecuali pada dektrosa Staphylococcus aureus memberikan hasil yang negatif.
Gambar 3. Uji karbohidrat                         Gambar 4.     Uji karbohidrat sebelum inkubasi.                Setelah inkubasi.
Staphylococcus   aureus pun mampu    memfermentasi karbohidrat dalam keadaan aerob dan    anaerob, dilakukan    pada media glukosa dan mannitol dengan    menusukkan pada bagian tengah  hingga dasar   media semi padat. Pada uji ini     dilakukan     pada dua  kondisi yaitu    pada     aerob   dan  anaerob Pertumbuhan anaerob diberi paraffin. Dibawah ini merupakan gambar dari uji biokimia mannitol dan glukosa secara aerob dan anaerob.
Gambar 5. Perubahan pada glukosa.   Gambar 6. Perubahan pada manitol.
E.           Pertumbuhan Anaerob
Staphylococcus aureus merupakan bakteri aerob dan anaerob fakultatif dimana dia bisa tumbuh di dua keadaan. perubahan warna merah menjadi kuning pada media PRDB merupakan indikator kemampuan Staphylococcus aureus memfermentasi keadaan anaerob.
Gambar 7. Uji pertumbuhan anaerob positif ( kiri : sebelum inkubasi,kanan : setelah inkubasi).
F.            Motility
Staphylococcus aureus merupakan bakteri non motil karena berdasarkan hasil uji dengan media Mannitol Test Medium, bakteri Staphylococcus aureus hanya tumbuh lurus digaris tusukan saja dan tidak menyebar. Dilihat pada gambar, warna ungu merupakan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Gambar 8. Motility negatif.
G.          Nitrat
Gambar 9. Reduksi nitrat positif ( kiri sebelum inkubasi , kanan setelah inkubasi).
Staphylococcus aureus adalah bakteri yang mampu mereduksi nitrat menjadi nitrit. Tabung kiri adalah sebelum inkubasi dan sebelah kanan merupakan control positif ditandai dengan warna merah. Berdasarkan pengamatan perubahan pertama yang terjadi mula-mula menjadi oranye karena berlebih warna menjadi merah tua.
H.          Uji IMViC
         Hasil uji IMViC yang dilakukan pada kontrol positif Staphylococcus aureus berturut-turut yaitu negatif; positif; positif; negatif Pembahasannya dijelaskan sebagai berikut :
·               Indol
Staphylococcus aureus tidak dapat memproduksi indol karena saat biakan dalam medium Tryptone Broth  yang telah diinkubasi menghasilkan warna kuning ketika direaksikan dengan preaksi KOVA’C (gambar 10).
·               Merah Metil
Staphylococcus aureus memiliki konsentrasi asam yang tinggi ditandai dengan  indikator merah metil yang menghasilkan warna merah setelah inkubasi selama 5 hari, karena kemampuannya yang dapat memproduksi asam dari hasil memfermentasi karbohidrat (gambar 11).
Gambar 10. Indol negatif ( kiri setelah           gambar 11. Merah metil positif
          Inkubasi, kanan sebelum                               (kanan sebelum   penambahan Pereaksi).  Penambahan Indikator
MM, kiri   setelah penambahan).
·               Uji Voges Proskauer
Gambar 12.   Hasil uji vp positif ( kiri sebelum penambahan pereaksi, kanan setelah penambahan peraksi).
Pada uji VP menunjukan reaksi positif karena sifat Staphylococcus aureus yang mampu memfermentasi medium MR-VP yang mengandung glukosa sehingga memproduksi asetil metil karbinol yang ditandai dengan perubahan menjadi warna merah.
·               Uji Sitrat
Uji sitrat pada Staphylococcus aureus menunjukan reaksi yang negatif karena tidak ada prubahan warna atau kekeruhan pada medium. Jadi, dinyatakan bahwa Staphylococcus aureus tidak mampu memfermentasi sitrat.
Gambar 13. Hasil uji sitrat.
KESIMPULAN
Dari hasil analisis cemaran bakteri Staphylococcus aureus pada contoh keju dan susu bubuk, dapat ditarik kesimpulan.bahwa :
1.              Hasil dari pengujian sebanyak 37 contoh susu bubuk dengan menggunakan metode angka lempeng total berdasarkan baku mutu SLS 516: 1992, hasilnya adalah < 10 koloni per gram artinya keberadaan bakteri Staphylococcus aureus negatif.
2.              Hasil dari pengujian sebanyak 3 contoh keju dengan menggunakan metode angka paling mungkin berdasarkan baku mutu SNI 01 – 2897 – 1992,  hasilnya adalah < 3 koloni per gram artinya keberadaan bakteri Staphylococcus aureus negatif.
3.            Semua contoh keju dan susu bubuk yang diuji, dinyatakan aman dari cemaran bakteri Staphylococcus aureus karena telah memenuhi persyaratan baku mutu yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Bacteriologycal Analitycal Manual (BAM).1998.Food And Drug Administration.USA : AOAC International.
Chan, E.C.S. Dan M.J. Pelcjar.1998.Dasar-Dasar Mikrobiologi 2.Penerjemah : Ratna S. Et All.Jakarta : Universitas Indonesia.
Fardiaz, Srikandi.1989.Mikrobiologi Pangan.Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Fardiaz, Srikandi.1992.Mikrobiologi Pangan 1.Jakarta : Gramedia.
Fraizer, W.C. Dan D.C. Westhoof.1978.Food Microbiology.USA : Mc. Graw-Hill Company.
Harrigan W.F. dan Morgant E. M., 1966.Food Microbiologi.
Http://Antiserra.Wen.Su/Coccus.Html Didownload Pada 04 September 2010 Pukul15:04 WIB.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Keju didownload pada 2 Desember pukul 2010 9:15 WIB.
Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Staphylococcus_Aureus Didownload Pada 4 September 2010 Pukul 15:42 WIB.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Susu didownload pada 2 Desember pukul 2010 9:15 WIB.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Susu_bubuk didownload pada tanggal 16 Nopember 2010 jam 17 : 30 WIB.
Http://koas.vetklinik.com/index.php?Option=com_content&view=section&layout=blog&id=5&itemid=53&limitstart=5 didownload pada 26 Oktober 2010 pukul 9:15 WIB
Http://Queenofsheeba.Wordpress.Com/2008/07/22/bakteristaphylococcus-Aureus/ Didownload pada 26 Agustus 2010, 20:35 WIB.
Maroney, M.2005.Staphylococcus Aureus. NEW ZEELAND : Resources Of Milk.
Primanurjaman, Indra.2005.Analisis E.Coli/Coliform Dan Identifikasi Bakteri Pada Susu Bubuk.Bogor : Akademi Kimia Analis
Srilanka Standard (SLS) 516 : 1992.1992.Micrbiologycal Test Methods.Colombo : Darmapala Mawatha.
Standar Nasional Indonesia (SNI) 01 – 2894 – 1992.1992.Uji Cemaran Mikroba.Jakarta : DSN.
Standar Nasional Indonesia (SNI) 7388 : 2009.2009.Uji Cemaran Mikroba.Jakarta : BSN.
Toronto, Bufallo.1978.Microorganisms In Food 1.Canada : University Of Toronto Press.
Yulianty, H.2008.Uji Cemaran Mikrob Pada Susu Bubuk Menggunakan Metode Standar Srilanka (Sls).Bogor : Akademi Kimia Analis.